Pastel Muslimah
  • Home
  • Instagram
Ⓜ️edia Sunnah Nabi

⚠️ *KETIKA BERAMAL TANPA ILMU*

Oleh :
Ustadz Armen Halim Naro

Sebagai seorang muslim tentu setiap kali mendirikan shalat lima waktu, atau shalat-shalat yang lainnya. Dia selalu meminta ditunjukan shirathul mustaqim. Yaitu jalan lurus yang telah lama dilalui oleh orang-orang yang telah diberi nikmat, dan dijauhkan dari jalan orang-orang maghdhubi `alaihim (orang-orang yang Engkau murkai), juga jalan orang-orang dhallin (orang-orang yang sesat). Dalam tafsiran, dua kelompok diatas disebutkan [1], bahwa orang-orang mahgdhubi ‘alaihim adalah Yahudi, sedangkan orang dhallin adalah Nashara.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,”Dan perbedaan antara dua jalan yaitu agar dijauhi jalan keduanya-, karena jalan orang yang beriman menggabungkan antara ilmu dan amal. Adalah orang Yahudi kehilangan amal, sedangkan orang Nashrani kehilangan ilmu. Oleh karenanya, orang Yahudi memperoleh kemurkaan dan orang Nashrani memperoleh kesesatan. Barangsiapa mengetahui, kemudian tidak mengamalkannya, layak mendapat kemurkaan. Berbeda dengan orang yang tidak mengetahui. Orang-orang Nashrani, ketika mempunyai maksud tertentu, tetapi mereka tidak memperoleh jalannya, karena mereka tidak masuk sesuai dengan pintunya. Yaitu mengikuti kebenaran. Maka, jatuhlah mereka ke dalam kesesatan.”[2]

Banyak orang yang menyangka, bahwa banyak amal dan ibadah sudah mendapat jaminan untuk hari akhiratnya, sekurang-kurangnya merupakan tanda kebenaran dan bukti keshalihan. Begitulah sering kita dengar, dan itulah fenomena yang terjadi di kalangan kaum muslimin. Kalaulah kita mencoba untuk mengingat surat yang telah sering kita dengar ini, maka semua sangkaan dan dugaan kita selama ini, akan bisa kita ubah untuk hari besoknya. Dapat dibayangkan, seseorang yang mempunyai amalan sebanyak pepasiran di pantai, akan tetapi setelah ditimbang, dia bagaikan debu yang beterbangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. [Al Furqan:23].

Bukan saja amalannya tidak dianggap sebagai amalan yang diterima, bahkan dialah penyebab masuknya ke dalam api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka). [Al Ghasyiah:1- 4].

Berkata Ibnu Abbas,”Khusyu`, akan tetapi tidak bermanfaat amalannya,” diterangkan oleh Ibnu Katsir, yaitu dia telah beramal banyak dan berletih-letih, akan tetapi yang diperolehnya neraka yang apinya yang sangat panas [3]. Oleh sebab itu, Imam Bukhari membuat bab di dalam kitab Shahih Beliau, Bab: Berilmu sebelum berucap dan beramal.

*KEUTAMAAN ILMU DALAM AL QURAN*
Ayat yang menerangkan tentang keutamaan ilmu dan celaan terhadap orang yang beramal tanpa ilmu sangatlah banyak [4]. Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, bagaikan orang yang melihat dengan si buta.

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? [Ar Ra`ad:19].

Bahkan tidak sekedar buta, akan tetapi juga tuli dan bisu .

Di berbagai tempat dalam Al Qur’an Allah l mencela orang-orang yang bodoh, yaitu:

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Al Araf:187].

وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Dan kebanyakan mereka tidak berakal. [Al Maidah:103].

Bahkan mereka disamakan dengan binatang, dan lebih dungu daripada binatang:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah, ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa. [Al Anfal: 22].

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa orang-orang bodoh lebih buruk dari binatang dengan segala bentuk dan macamnya. Dimulai dari keledai, anjing, serangga, dan mereka lebih buruk dari binatang-bintang tersebut. Tidak ada yang lebih berbahaya terhadap agama para rasul dari mereka, bahkan merekalah musuh agama yang sebenarnya.

Lebih dari itu, bahwa syariat membolehkan sesuatu yang pada asalnya haram, karena yang satu berilmu dan yang satu lagi tidak berilmu. Yaitu dihalalkannya memakan daging hasil buruan anjing yang diajarkan berburu, berbeda dengan anjing biasa yang menangkap mangsanya.

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Mereka menanyakan kepadamu,”Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah,”Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisabNya.” [Al Maidah:4] [5]"

Sedangkan sunnah dan atsar Salaf sangat banyak sekali yang menerangkan permasalahan ini.

Setelah ini semua, ketika seorang muslim mengarahkan pandangannya kepada jamaah-jamaah yang menisbatkan diri kepada Islam, maka didapatkan bahwa dakwah mereka bermuara kepada suatu persamaan. Yaitu tidak mempedulikan ilmu syariat dan tenggelam ke dalam lumpur kebodohan. Inilah yang menyebabkan banyaknya terjadi penyelewengan terhadap pemahaman Islam.

Ini sebelum mereka, satu kelompok yang disebut Khawarij, sampai-sampai Nabi menyebutkan, bahwa amalan para sahabatnya jika dibandingkan dengan amalan mereka tidak ada apa-apanya. Shalat mereka, jika dibandingkan shalat kita tidak apa-apanya. Mereka orang-orang yang ahli ibadah. Siang harinya bagaikan singa yang bertempur, dan pada malam harinya bagaikan rahib … Akan tetapi, apa akhir dari cerita mereka? Nabi telah mengabarkan kepada kita, bahwa Islam mereka hanya sebatas kerongkongan saja Mereka keluar dari Islam, sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya; mereka dikatakan anjing-anjing neraka. Barangsiapa yang berhasil membunuh mereka, akan mendapat ganjaran di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berazam, jika Beliau bertemu dengan zaman mereka, maka Beliau akan memeranginya, sebagaimana diperanginya kaum `Ad …

Pada masa sekarang, tumbuh berkembang suatu jamaah. Yaitu jamaah yang didirikan di atas bid`ah dan khurafat, dan syirik. Didirikan dengan aqidah As`ariyyah Maturidiyyah. Membaiat para pengikutnya dengan empat tharikat tasawuf: Jistiyyah, Qadiriyyah, Sahruwardiyyah dan thariqat Naqsyabandiyyah.

Sedangkan pada masalah aqidah dan tauhid. Mereka tidak lebih mengerti tentang tauhid bila dibandingakan dengan orang-orang musyrik Arab pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka hanya mengakui tauhid Rububiyyah dengan tafsiran syahadat tauhid tersebut. Dan tidak mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan tauhid Uluhiyyah. Adapun pada tauhid Asma` wa Shifat, maka mereka berada diantara aqidah Asyariyyah dan Maturidiyyah. Sebagaimana diketahui, bahwa kedua mazhab tersebut terkhusus dalam tauhid ini, telah melenceng dari mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Adapun tentang ibadah dan suluk mereka; maka mereka dibaiat dengan empat thariqat dan mengamalkan dzikir-dzikir serta shalawat yang dipenuhi bid`ah dan khurafat. Seperti membaca (la ilaha) empat ratus kali, dan (Allah, Allah) enam ratus kali setiap hari. Buku shalawat yang sering dibaca oleh mereka, ialah kitab shalawat yang masyhur bid`ah dan ghuluw kepada Nabi. Yaitu kitab Dala-ilul Khairat, Burdah.

Adapun kitab yang paling berarti bagi mereka, apa yang disebut dengan Tablighi Nishab. Dikarang oleh salah seorang pendiri mereka. Kitab ini nyaris dimiliki dan dibaca oleh setiap jamaah, melebihi membaca kitab Shahih Bukhari. Kitab ini dipenuhi dengan khurafat, syirik, bid`ah, dan hadits-hadist palsu, serta hadist-hadist lemah. Begitu juga dengan kitab Hayat Ash Shahabah, yang dinamalkan mereka, dipenuhi dengan khurafat serta kisah-kisah yang tidak benar, dan begitu seterusnya ."

Kesimpulan tentang jama’ah ini ialah, bahwa mereka merupakan jama’ah yang tidak peduli terhadap ilmu dan ulama, berdakwah di atas kebodohan [6], dengan bukti hadist yang selalu mereka dendangkan yaitu, “sampaikan dariku sekalipun satu ayat”. Hadits ini sekalipun shahih, akan tetapi yang tidak shahih ialah cara pemahaman mereka terhadap hadits ini. Setiap orang yang masuk ke jemaah ini sudah layak menjadi juru dakwah dari rumah ke rumah yaitu untuk mengajak kepada jemaah mereka dengan alasan hadist di atas. Atau mereka membaca buku fadhilah di masjid …dan mereka permisalkan bahwa umat Islam sekarang bagaikan (orang yang sedang tenggelam yang harus diselamatkan). Tidak tahu mereka bahwa belajar berenang tidak bisa dalam satu hari atau dua, sehingga dia dapat menyelamatkan yang mau tenggelam tadi, atau malah yang awalnya hendak menolong karena tidak bisa berenang sama-sama tenggelam kedalam lautan dosa dan kesalahan.

Bukankah pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika salah seorang sahabat terluka, kemudian junub ketika musim dingin, dan dia bertanya kepada salah seorang diantara mereka. Apakah ada rukhsah untuk tidak mandi? Yang ditanya menjawab: tidak! Maka, mandilah sahabat tadi yang menyebabkannya meninggal. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar cerita ini, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah besar, dan berkata,”Sungguh kalian telah membunuhnya. Semoga kalian diberi balasan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengapa kalian tidak bertanya jika tidak mengetahui? Karena obat dari tidak tahu ialah bertanya.

Yang lebih menarik untuk mengkaji jama’ah ini ialah, karena mereka jama’ah bunglon. Berubah setiap hinggap, dan bertukar warna sesuai dengan lingkungannya. Apakah mereka ini tidak mempunyai pendirian yang kuat dan tidak mempunyai pondasi yang kokoh? Ataukah demikian metode dakwah mereka, yaitu mengumpulkan semua warna dan kelompok di bawah naungan kelompok mereka?

Oleh sebab itu, jama’ah ini yang berada di tempat pembaca, berbeda dengan mereka yang berada di tempat penulis. Bisa saja, di satu tempat mereka mempelajari suatu pelajaran yang benar bukan karena ajaran tersebut, akan tetapi karena lingkungan yang membuatnya terpaksa memulainya dari sana. Dan bisa saja sebaliknya, menjadi pembawa bendera bid`ah serta sebagai penyebarnya.

Jama’ah ini paling mudah terpengaruh oleh suasana, karena permasalahan tadi. Yaitu, mereka tidak dididik di atas ilmu yang shahih. Maka, anda akan melihat mereka bagaikan baling-baling di atas bukit. Bak sebuah bulu ayam di padang pasir, mengikuti apa yang dikehendaki oleh angin.

Kalaulah mereka tidak diikat dengan pertemuan-pertemuan di masjid-masjid dan tamasya-tamasya ke negeri-negeri kesayangan mereka -sekalipun negeri tersebut adalah tempat sarang berhala terbanyak di dunia-, maka penulis yakin, mereka akan berantakan. Dan jama’ah mereka akan terpengaruh oleh jama’ah lain, atau kembali kepada kepada asal mereka.

Mungkin ada terbetik pertanyaan. Bukankah keberhasilan mereka mengeluarkan orang-orang dari tempat-tempat maksiat, dan membuatnya bertaubat ini sebagai salah satu dari kebaikan dan kesuksesan jama’ah ini dalam berdakwah?!

Maka, kita perhatikan jawaban Syaikh Aman Ali Al Jami rahimahullah, ketika Beliau menjawab tentang sebagian dakwah moderen yang mempunyai persamaan dakwah dengan permasalahan di atas:

Benar, ia telah mengeluarkan orang-orang dari tempat-tempat diskotik dan bioskop. Ini tidak ada yang mengingkarinya. Akan tetapi, setelah ia mengeluarkan mereka dari tempat-tempat tersebut, apa yang dilakukannya? Apakah kemudian mendakwahi mereka dengan dakwah, dan dengan metode para anbia` (nabi)? Atau sebaliknya, mengajarkan mereka dan mengumpulkannya, sehingga mereka terpecah-pecah ke dalam berbagai macam thariqat tasawuf? Benar … Akan tetapi, ia telah mengeluarkan mereka dari jahiliyah kepada jahiliyah. “

Dia tidak memindahkan mereka kepada pemahaman yang benar tentang Islam. Buktinya, ia sendiri menganut salah satu thariqat shufi. Adapun orang-orang yang telah dikeluarkannya dari tempat-tempat diskotik itu, kalau tidak mengambil thariqat yang dianut olehnya, tentu mengambil thariqat tasawwuf lainnya. Dan apakah dakwahnya juga membasmi peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang secara jelas nampak ada di negerinya? Apakah dia telah mengeluarkan manusia dari thawaf di sekeliling kuburan, seperti kuburan Husain, Zainab dan Badawi?! Apakah dia telah mengeluarkan manusia dari berhukum dengan hukum demokrasi kepada berhukum dengan hukum Allah? Inilah yang seharusnya dilakukannya. Jika begini dakwahnya, tentu dakwah yang dibawanya merupakan dakwah yang benar. Akan tetapi sebagaimana kata syair :

إِذَا كَانَ رَبُّ الْبَيْتِ بِالدُّفَّ ضَارِباً
فَشِيْمَةُ أَهْلِ اْلبَيْتِ كُلِّهِمِ الرَّقْصُ

Jika seandainya tuan rumah berdendang dengan rebana
Tentu semua yang di rumah menari kegemaran mereka

Jika tidak sampai kepadanya ilmu dan makrifah tentang Islam yang benar, bagaimana mungkin ia akan meninggalkan kuburan-kuburan tersebut dan memerangi orang yang thawaf disekelilingnya. Apa yang dapat dilakukannya terhadap orang-orang yang jatuh ke dalam maksiat tersebut? [7]

Terakhir. Marilah menuntut ilmu, wahai para pemuda. Sesungguhnya dialah pintu kejayaan dan keselamatan.

********************

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun VII/1420H/1999M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 

_______

Footnote

[1]. Dari hadits Nabi yang diriwayatkan oleh `Adi bin Hatim dan Abu Dzar serta yang lainnya. Dikeluarkan oleh Abu Dawud , Thayalisi di Musnadnya, dan Tirmidzi di Jami`nya. Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Qur’anil `Adhim, 1/28, Maktabah `Ulum Wal Hikam, Madinah, 1993 dan Al Qurthubi, Al Jami` Li Ahkamil Qur`an, 1/104, Darul Kutub `Ilmiah, Beirut, 1993.
[2]. Ibnu Katsir, Ibid.
[3]. Ibnu Katsir, Ibid. hal. 4/503.
[4]. Ibnul Qayyim menyebutkan permasalahan ini dalam kitab Beliau yang masyhur, Miftah Darus Sa`adah. Cobalah untuk menelaahnya. Sungguh untuk memperolehnya, para ulama kita berjalan kaki yang tidak sanggup ditempuh oleh kuda.
[5]. Lihat Miftah Darus Sa`adah, hal. 1/48-126, Darul Fikri, Beirut.
[6]. Lihat Kitab Al Qaulul Baligh …, Syaikh Hamud Al Tuwaijiri, hal. 7-18, Dar As Shuma`I, Riyadh, Cet. II/ 1997.
[7]. Dari kaset 27 Sualan Haula Ad Dakwah As Salafiah (Duapuluh Tujuh Permasalahan Seputar Dakwah Salafiah).

Ⓜ️edia Sunnah Nabi


📘📖.........................✍🏻
Bismillah
Silsilah at Targhib wa at Tarhib
By: Berik Said

Kelelahanmu Hidup di Dunia Insya Allah Akan segera Terbayarkan, Maka Bersabarlah...

TAHUKAH KAMU BAHWA SESAAT SETELAH ORANG BERIMAN WAFAT, MAKA RUHNYA LANGSUNG BERTEMU DENGAN RUH ORANG BERIMAN LAINNYA YANG TELAH DAHULU WAFAT, DAN MEREKA DALAM KEADAAN AMAT BERGEMBIRA, DAN AKAN BERTANYA TENTANG SAUDARA MEREKA YANG MASIH HIDUP DI DUNIA ?
By: Berik Said

Nabi shollalloohu ‘alayhi wa sallam bersabda telah bersabda tentang sesaat setelah keluarnya ruh manuia dari jasadnya lalu dibawa para malaikat menuju langit, lantas :
فيأتونَ بِهِ أرواحَ المؤمنينَ فلَهُم أشَدُّ فرحًا بِهِ مِن أحدِكُم بِغائبِهِ يقدمُ علَيهِ فيَسألونَهُ ماذا فَعلَ فلانٌ ماذا فعلَ فلانٌ ، فيقولونَ : دَعوهُ فإنَّهُ كانَ في غَمِّ الدُّنيا
“Arwah orang-orang yang beriman akan bertemu dengan arwah mukminin yang lain, maka mereka jauh lebih bergembira dibandingkan gembiranya kalian saat baru menjumpai orang yang sudah lama tidak bertemu. 

Lantas mereka saling bertanya-tanya (kepada orang yang baru saja wafat tadi -pent): “Apa yang di kerjakan oleh si fulan dan si fulan (yang masih hidup di dunia) ?”. 

(Namun) kemudian mereka berkata :‘Tinggalkanlah/Biarkanlah dia (sejenak dulu), karena ia baru saja selesai dari keletihan hidup dii dunia.. “. 
(HR. Nasa’i:1832 dll. Kata Syaikh Muqbil rohimahulloh dalam Shohihul Musnad [1331]:’Shohih’) 

Sementara dalam sebuah hadits mauquf yang bersumber dari Abu Ayyub al Anshori rodhialloohu ‘anhu ada penjelasan bahwa diantara pertanyaan yang ditanyakan arwah orang yang telah lama wafat kepada orang beriman yang baru saja wafat dan arwah mereka dipertemukan tadi adalah sebagai berikut :
ما فعل فلانٌ ؟ ما فعلت فلانةُ ؟ هل تزوَّجت ؟ فإذا سألوا عن الرَّجلِ قد مات قبله قال لهم : إنَّه قد هلك ، فيقولون : إنَّ للهِ وإنَّا إليه راجعون ، ذُهِب به إلى أمِّه الهاويةِ ، فبئست الأمُّ وبئست المُربِّيةُ
"Apa yang telah dilakukan oleh si fulan ? apa yang dilakukan oleh fulanah ? APAKAH IA SUDAH MENIKAH ?” 
Namun manakala mereka (ruh orang yang telah lama wafat tersebut) bertanya (kepada ruh orang yang baru saja wafat tadi) tentang seseorang yang (sebenarnya) telah meninggal sebelumnya (tetapi ruhnya ternyata tak bertemu dengan mereka -pent), ia (yang baru saja wafat tadi) menjawab : "ia meninggal sebelumku !" 
Mereka (ruh-ruh orang yang telah lama wafat yang bertanya tadi) berkata : " Inna lillahi wainna ilaihi roji'un, (ini berarti) IA (SI FULAN YANG DIKATAKAN SUDAH WAFAT NAMUN RUHNYA TAK BERTEMU DENGAN MEREKA) TELAH PERGI MENUJU NERAKA HAWIYAH, DAN HAWIYAH ADALAH SEJELEK-JELEK DAN SEBURUK-BURUKNYA ‘IBUNYA’ (TEMPAT KEMBALINYA)” 
(Kata al Albani rohimahulloh dalam as Shohihah [2758] :’Shohih Mauquf’’)

Kita semua memohon kepda Allah agar semua arwah kita kelak akan dipertemukan bersama sama dalam keridhoan-Nya, aamiin…
*📬 Haram, Senam Yoga*


Yoga haram menurut pendapat yang benar, tidak hanya Himpunan Ulama Malaysia saja yang merilis fatwa haram terhadap yoga, bahkan MUI di Indonesia pada tahun 2009 telah secara resmi merilis fatwa haramnya yoga. Diantara alasan yang dikemukakan oleh Asrorun Ni’am sekertaris komisi fatwa MUI ialah:

1. Yoga yang murni ritual dan spiritual agama lain, hukum melakukannya bagi orang Islam adalah haram.
2. Yoga yang mengandung meditasi dan mantra atau spiritual dan ritual ajaran agama lain hukumnya haram, sebagai langkah preventif (sadd al-dzari’ah).

Kita sepakat bahwa yoga berasal dari agama paganisme, hindu dan budha. 

Dalam Fatwa Islam dinyatakan bahwa yoga hukumnya terlarang, "Kesimpulannya, tidak boleh bagi seorang muslim melakukan senam yoga sama sekali. Baik karena latar belakang aqidah, atau sebatas ikut-ikutan, atau untuk mendapatkan manfaat berupa ketenangan yang sifatnya dugaan".

Selanjutnya fatwa islam menyebutkan beberapa pertimbangan sisi aqidah,

[1] Yoga bersinggungan dengan aqidah tauhid, ada upaya mendekatkan diri kepada selain Allah, atau minimal membangun keyakinan menyimpang tentang hubungan tuhan dengan makhluk, yaitu keyakinan manunggal.
[2] Ritual ini dilakukan dengan mengikuti aktivitas matahari. Yang ini sama persis seperti ibadahnya orang kafir, seperti agama shinto. Karena alasan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita shalat di waktu matahari terbit dan hendak terbenam. Karena setan berada di tempat matahari terbit dan terbenam, agar disembah manusia.

[3] Kegiatan ini meniru ritual orang pagan, penyembah berhala. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan: "Siapa yang meniru satu kaum maka dia bagian dari kaum itu". (HR. Abu Daud 4033). (Fatwa Islam, no. 101591)

Sumber: Bimbinganislam & Konsultasisyariah
___

Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
Web: dakwahmanhajsalaf.com
Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.
*🌻16 ALASAN KENAPA KITA HARUS BERDAKWAH🌻*

Segala puji hanya milik Allah semata Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada para kerabatnya, para shahabat seluruhnya, wa ba’du:

Aku melihat seorang laki-laki warga Negara Filipina, ia dulu adalah seorang pendeta dan misionaris, kemudian Allah Azza wa Jalla memberikan kepadanya hidayah! 

Lalu mari kita perhatikan apakah yang ia kerjakan setelah Allah membukakan hatinya untuk memeluk agama Islam? 

Dia mulai mendakwahi anak bangsanya sehingga masuk islam di tangannya 4000 orang! 

Dan yang demikian itu hanya dalam beberapa tahun saja! Kira-kira berapa banyak orang yang akan memeluk agama Islam di tangan mereka yang 4000 itu, dan akhirnya kebaikan terus melambung naik sampai hari kiamat! 

Alangkah beruntungnya ia…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

*مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ*

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[1].” 
 (Hadits riwayat Muslim)

An Nawawi rahimahullah berkata:

 “ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, isyarat dan tulisan.”

Saudaraku muslim…

Berdakwah kepada agama Allah Azza wa Jalla termasuk keta’atan yang paling tinggi dan ibadah yang paling agung, ia membutuhkan dari seluruhnya cara-cara yang bermacam-macam, keikhlashan, kesungguhan, kesabaran untuk menyampaikan agama ini, mempertahankan dan memperjuangkannya dari kehancuran:

{يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)} [المدثر: 1، 2]

Artinya: “Hai orang yang berkemul (berselimut),  bangunlah, lalu berilah peringatan![2].”
(QS. Al Mudatstsir: 1-2)

Jika bukan kita penganut agama Islam yang bekerja untuk agama ini, maka siapakah gerangan yang akan mengerjakannya?!

Allah Azza wa Jalla telah memuliakanmu dengan nikmat Islam dan memudahkan bagimu perkara-perkara dan memudahkan bagimu jalan sehingga kamu berjalan di jalan yang paling agung, Ibnul Qayyim berkata:

 “Berdakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah tugasnya para rasul dan para pengikutnya.”

Saudaraku muslim…

Siapa yang memberikan sebuah buku maka ia adalah pendakwah, siapa yang menghadiah kan kaset maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang mengajarkan oang yang bodoh maka ia adalah seoorang pendakwah, dan barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang menyampaikan sepatah kata maka ia adalah seorang pendakwah

…pintu-pintu yang luas dan jalan yang mudah dan gampang, segala puji hanya milik Allah, setiap kali berkurang kemauan dan hasrat menjadi lemah, maka ingatlah pahala-pahala dan buah-buah yang agung bagi siapa yang berdakwah ke jalan Allah, di antaranya:

Pertama: mengikuti para nabi dan mencontoh mereka

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ } [يوسف: 108]

Artinya: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik[3].”
 ( QS. Yusuf:108)

Al Farra berkata: “Wajib bagi setiap yang mengikutinya untuk berdakwah kepada apa yang ia dakwah dan menyebutkan Al Quran dan nasehat”.

*Kedua: bergegas untuk mendapatkan kebaikan dan kemauan di dalam mendapatkan pahala
karena Allah Azza wa Jalla memuji para pendakwah:*

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ {[فصلت: 33]

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?[4].”
 (QS. Fushshilat: 33)

Asy Syaukani berkata: “Tidak ada yang lebih baik darinya dan yang lebih jelas dari jalannya dan tidak ada yang lebih banyak pahalanya dibanding  amalannya”.

*Ketiga: berusaha untuk mendapatkan pahala-pahala yang besar kebaikan-kebaikan yang banyak dengan hanya perbuatan yang sedikit*

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira dengan sabdanya:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[5].”
 (Hadits riwayat Muslim)

Jika anda menunjukkan seseorang kepada agama Islam maka bagi anda seperti pahala islamnya, amalannya, shalatnya dan puasanya dan tidak mengurangi hal tersebut dari pahalanya sedikitpun, dan pintu ini sangat agung dan luas, siapa yang diberi taufik oleh Allah Azza wa Jalla ia akan masuk ke dalamnya.

*Keempat: taufik dan pendekatan kepada kebenaran:*
*bahwasanya ia adalah buah yang sangat jelas dari dakwah* 

Allah Ta’ala berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} [العنكبوت: 69]

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik[6].”
( Qs Al-Angkabut 29:69)

Al Baghawi berkata:

 “Orang-orang yang berjihad melawan orang-orang musyrik untuk memperjuangkan agama kiat”.

*Kelima: Harapan shalihnya keturunan
Karena sesungguhnya di dalam hal tersebut terdapat Qurratu ‘ain di dunia dan akhirat, dan Allah tidak menghilangkan pahala orang yang telah berbuat kebaikan.*

 Allah Ta’ala berfirman:

{وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا } [النساء: 9]

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar “
( Qs An-Nisa’ 4:9 )

dan termasuk dari perkataan yang benar yang paling agung adalah berdakwah kepada Agama Allah ﷻ.

*Keenam: termasuk dari buah dari berdakwah adalah memberatkan timbangan-timbangan kebaikan kita pada hari ditunjukkannya amal perbuatan*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya: “Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun[8].”
 (Hadits riwayat Muslim)

*Ketujuh: Melakukan dakwah kepada Allah ﷻ merupakan sebagian dari sebab-sebab kemenangan dan keberuntungan di dunia dan akhirat*

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran[9].”

*Kedelapan: Berdakwah kepada agama Allah termasuk dari sebab-sebab yang mendatangkan kemenangan melawan musuh-musuh*

Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} [محمد: 7]

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu[10].”(Qs Al-Ashr 1-3)

Karena dengan dakwah maka Allah akan disembah sesuai dengan yang disyri’atkan-Nya, kemungkaran-kemungkaran akan hilang, dan akan tumbuh di dalam umat ini rasa kejayaan dan kemuliaan sehingga jalan di jalan kemenangan dan kekuasaan.

*Kesembilan: dengan berdakwah kepada agama Allah maka akan didapatkan kedudukan-kedudukan yang tinggi*

Syaikh Abdurrahman As Sa’dy rahimahullah berkata: “Dan kedudukan ini yaitu kedudukan berdakwah adalah kesempurnaan yang bagi orang-orang shiddiq, yang telah menyempurnakan akan diri mereka dan selain mereka, dan mereka akan mendapatkan warisan yang sempurna dari para rasul”.

*Kesepuluh: dari buah hasil berdakwah adalah shalawat Allah, para malaikat-Nya dan penduduk langit dan bumi atas pengajar manusia kebaikan
karena apa yang ia akan sampaikan hanyalah ilmu yang diwarisi dari firman Allah Ta’ala dan sabda rasul-Nya yang mulia,*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya dan penghuni bumi dan langit sampai semut yang berada di lubangnya dan bahkan sampai ikan benar-benar bershalwat atas pengajar manusia kebaikan[11].” 
(Hadits riwayat Tirmidzi)

*Kesebelas: Berdakwah kepada agama Allah mengangkat derajat di dunia dan akhirat*

Ibnul Qayyim berkata:

 “Sesungguhnya pangkat makhluq yang paling mulia di sisi Allah adalah pangkat kerasulan dan kenabian, karenanya Allah mengutus dari manusia seorang rasul bergitu pula dari jin”.

*Kedua belas: Termasuk buah hasil berdakwah adalah terus mengalirnya pahala si pendakwah setelah wafatnya*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا مَا عَمِلَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ حَتَّى يَتْرُكَ

Artinya: “Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala amalan tersebut selama dikerjakan di dalam kehidupannya dan setelah wafatnya sampai ditinggalkan[12].” (Hadits riwayat Ath Thabarani)  

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Jika seorang anak keturunan Adam meninggal maka terputus amalnya kecuali dati tiga perkara…”, dan salah satu diantaranya adalah: “Ilmu yang bermanfa’at.”
Ketiga belas: Kecintaan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang memperjuangkan agama-Nya dan menyampaikan risalah-Nya
Al Hasan ketika mengomentari firman Allah Ta’ala:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ} [فصلت: 33]

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?[13]. “
(QS. Fushshilat:33)

Beliau berkata: “Dia adalah orang yang beriman, menerima seruan Allah lalu menyeru manusia kepada apa yang ia telah dia terima dari seruan tersebut lalu ia beramal shalih ketika menerimanya, maka orang ini aadalah orang yang dicintai oleh Allah, ia adalah wali Allah”.

*Keempat belas: dari buah hasil berdakwah yang dicintai yang disenangi oleh jiwa dan melapangkan dada 
dan juga menolong untuk selalu terus (dalam berdakwah) dan mampu melawan dalam keadaan yang sempit, 

yaitu doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar terang wajah bagi yang menyampaikan sabda beliau,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِى فَبَلَّغَهَا

Artinya: “Allah mencerahkan wajah seseorang yang telah mendengar perkataanku lalu ia sampaikan[14].”
 (Hadits riwayat Ibnu Majah)

Maka berbahagaialah orang yang merasakan doa ini dan mendapatkan bagian darinya.


*Kelima belas: Doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar mendapatkan rahmat bagi siapa yang menyampaikan sabda beliau
termasuk hal yang paling agung yang membantu untuk selalu berjalan dengan semangat:*

رحم الله امرأ سمع منى حديثا فحفظه حتى يبلغه غيره

Artinya: “Allah merahmati seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits lalu ia menghafalnya  kemudian ia sampaikan kepada orang lain[15].
”( Hadits riwayat Ahmad)

Dan di zaman sekarang terkumpul syarat-syarat untuk menyampaikan, Al Quran, kaset-kaset yang bernuansa islam telah tersedia, agar sampai kepada orang yang di dakwahi dalam keadaan yang sempurna dan baik, saya etringat bahwa seorang laki-laki masuk Islam kemudian ia dating ke Negara ini dan bermukim di sini beberapa tahun kemudian pulang ke negaranya dan tidak ada seorangpun dari manusia yang mengajaknya ke agama Allah, sampai ada kesempatan baginya untuk bekerja yang lain lagi dan setelah setahun ia pulang bersama sebuha perusahaan di bidang perbaikan hotel-hotel. 

Ia berkata: lalu pada suatu hari aku dapatkan sebuah tulisan singkat diletakkan di atas meja dapur setelah keluarnya orang yang menyewa hotel tersebut, ternyata di dalamnya terdapat pengetahuan-pengetahuan tentang Islam, lalu jadilah inti pencarianku adalah tentang Islam dan bertanya seputarnya, sampai akhirnya akupun masuk Islam dam masuk islam bersamaku bapak dan ibuku serta istriku dan aku berusaha untuk memasukkan sisa dari keluargaku sekarang masuk ke dalam Islam, maka bagaimanakah kesenganan seorang pendakwah yang meletakkan tulisan singkat tersebut kelak paa hari kiamat, jika seluruh kealuarga itu dan yang lainnya menerima dan itu semua akan terdapat di buku amalan dan kebaikan dia?

*Keenam belas:
berdakwah kepada agama Allah adalah shadaqah dari beberapa cara shadaqah*

Allah Ta’ala berfirman,

{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ} [البقرة: 3]

Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka[16].” (QS. Al Baqarah:3)

Al Hasan berkata: “Termasuk infaq yang paling afdhal adalah infaq ilmu”.

Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla menjadikan kita dari para pendakwah kepada agama-Nya dan memberikan kepada kita seluruhnya keikhlashan di dalam perkataan dan perbuatan.

*) Disusun oleh Abdul Malik Al Qasim, 

 Penerjemah: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
Artikel www.muslim.or.id
===============
*Disalin Oleh Muhammad Syarif*
  
*Kamis 04 Jumadil’Awwal 1440 /*
*10-Januari-2019* 
 ==============
✏10 FAEDAH BERDOA DENGAN LEMAH LEMBUT

BBG AL ILMU

Ust. M Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Pelajaran dari Surat Maryam (seri 1): Di antara contoh yang bisa diambil dari Nabi Zakariya, bagaimanakah ketika ia berdoa memohon keturunan pada Allah hingga usia tua. Ia pun meminta doa pada Allah dengan serius, ia berdoa dengan suara lembut atau lirih.

Apa yang dimaksud doa semacam itu? Apa faedah dari doa yang lirih dan lemah lembut?
Perintah Berdoa dengan Lemah Lembut

Allah Ta’ala berfirman,

كهيعص (1) ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا (3)

“Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 1-3)

Dalam kisah Zakariya terdapat pelajaran yang bisa digali. Di antaranya, salah satu adab doa adalah dengan suara lemah lembut, tidak dengan suara keras.

Kenapa sampai Zakariya memilih berdoa dengan suara lemah lembut, tidak dengan suara keras?

Asy Syaukani memberikan beberapa alasan dari berbagai pendapat ulama:

# Berdoa dengan suara lirih lebih menjauhkan diri dari riya’, yaitu ingin dipuji dalam beramal.
# Karena Zakariya meminta memiliki keturunan pada usia yang sudah uzur dan yang diminta pun adalah perihal dunia.
# Zakariya berdoa seperti itu karena takut dari kaumnya.
# Usianya yang sudah lemah dan tua renta yang tidak memungkinkan suara keras.

Itulah beberapa alasan yang disebutkan oleh para ulama mengapa sampai Zakariya bisa berdoa dengan suara lemah lembut dan lirih.Lihat Fathul Qodir, 3: 443.
Faedah Berdoa dengan Lemah Lembut

Disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai faedah berdoa dengan lemah lembut:

1- Menunjukkan keimanan yang benar karena yang memanjatkan doa tersebut mengimani kalau Allah itu mendengar doa yang lirih.

2- Ini lebih menunjukkan adab dan pengagungan. Hal ini dimisalkan seperti rakyat, ia tidak mungkin mengeraskan suaranya di hadapan raja. Siapa saja yang berbicara di hadapan raja dengan suara keras, tentu akan dibenci. Sedangkan Allah lebih sempurna dari raja. Allah dapat mendengar doa yang lirih. Sudah sepantasnya dalam doa tersebut dengan beradab di hadapan-Nya yaitu dengan suara yang lemah lembut (lirih).

3- Lebih menunjukkan kekhusyu’an dan ini adalah ruh dan inti doa.

4- Lebih menunjukkan keikhlasan.

5- Lebih mudah menghimpun hati untuk merendahkan diri dalam doa, sedangkan doa dengan suara keras lebih cenderung tidak menyatukan hati.

6- Doa yang lemah lembut menunjukkan kedekatan orang yang berdoa dengan Allah. Itulah pujian Allah pada Zakariya,

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

“Tatkala Zakariya berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)

Disebutkan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Mereka mengeraskan suara mereka saat berdoa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَإِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا إنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ

“Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat.Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Ahmad 4: 402. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kedekatan di sini yang dimaksud adalah qurb khosh (kedekatan yang khusus), bukan qurb ‘aam (kedekatan yang umum) pada setiap orang. Allah itu dekat pada hamba-Nya yang berdoa, Allah dekat dengan setiap hamba-Nya yang beriman dan Allah itu dekat dengan hamba-Nya ketika sujud.

7- Doa yang dibaca lirih akan ajeg (kontinu) karena anggota tubuh tidaklah merasa letih (capek) yang cepat, beda halnya jika doa tersebut dikeraskan. Doa yang dikeraskan tidak bisa berdurasi lama, beda halnya dengan doa yang lirih.

8- Doa lirih lebih selamat dari was-was dibandingkan dengan doa yang dikeraskan. Doa yang dijaherkan akan lebih membangkitkan sifat basyariah (manusiawi) yaitu ingin dipuji atau ingin mendapatkan maksud duniawi, sehingga pengaruh doa jadi berkurang.

9- Setiap nikmat pasti ada yang hasad (iri atau dengki). Termasuk dalam hal doa, ada saja yang iri (hasad) baik sedikit atau banyak. Karena bisa ada yang hasad, maka baiknya memang doa itu dilirihkan biar tidak ada iri ketika yang berdoa itu mendapatkan nikmat.

10- Dalam doa diperintahkan untuk lemah lembut, sebagaimana dalam dzikir. Perintah dalam dzikir,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf: 205). Mujahid dan Ibnu Juraij menyatakan bahwa ayat tersebut berisi perintah untuk mengingat Allah dengan hati dengan menundukkan diri dan bersikap tenang tanpa mengeraskan suara dan tanpa berteriak-teriak. Bersikap seperti inilah yang merupakan ruh doa dan dzikir. (Disarikan dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 15: 15-20)

Baca selengkapnya :
http://rumaysho.com/amalan/10-faedah-berdoa-dengan-lemah-lembut-9884

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
BISMILLAH

Persahabatan yang Sampai ke Surga Selamanya

Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita memahami hadits tentang sahabat berikut ini.
Umar bin Khattab berkata,
ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به
“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]
Sangat banyak keuntungan memiliki sahabat yang saleh diantaranya:

Sahabat yang saleh akan selalu membenarkan dan menasehati kita apabila salah. Inilah sahabat yang sesungguhnya, bukan hanya sahabat saat bersenang-senang saja atau sahabat yang memuji karena basa-basi saja. Sebuah ungkapan arab berbunyi:
ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ
“Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka”
“Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu”

Sahabat yang saleh juga akan selalu mendoakan shahabatnya karena apabila ia mendoakan sahabatnya, sedangkan sahabatnya tidak mengetaui, maka malaikat juga meng-amin-kan doa tersebut sambil mendoakan bagi yang berdoa tadi, artinya orang yang mendoakan juga mendapatkan apa yang ia doakan kepada saudaranya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim, no. 2733)

Sifat seseorang dan kesalehan itu “menular”, dengan berkumpul bersama orang saleh, maka kita juga akan menjadi saleh dengan izin Allah

.Perhatikan hadits berikut:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “
“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim]

Dari semua keutamaan memiliki sahabat yang saleh, ada keutamaan yang juga merupakan kenikmatan besar, yaitu persahabatan orang yang saleh akan berlanjut sampai surga dan akan kekal selamanya. 
Tentu ini kenikmatan yang sangat besar, karena antara sahabat dekat pasti tidak ingin berpisah dengan sahabat lainnya. Persahabatan sementara di dunia kemudian dipisahkan dengan kematian begitu saja, tentu bukan akhir yang indah.1
Salah satu dalil bahwa akan ada persahabatan di hari kiamat akan berlanjut bahwa orang yang saling mencintai (termasuk para sahabat) akan dikumpulkan bersama di hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)
Untuk memfasilitasi hal ini, Allah Ta’ala memberikan keutaamaan kepada seseorang untuk memberikan syafaat kepada sahabatnya yang lain, agar mereka bisa sama-sama masuk surga dan berkumpul kembali.

Hasan Al- Bashri berkata,
استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة
”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat antara sahabat di hari kiamat,
حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…
“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.
Para mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”
Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”

Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).
Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel muslim.or.id

Ummu Khanza Bilqis
Ⓜ️edia Sunnah Nabi

⚠️ KEUTAMAAN MENYANTUNI ANAK YATIM

Oleh :
Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA. 

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang menyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini :

1. Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[2].

2. Arti menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar[3].

3. Yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa[4].

4. Keutamaan dalam hadits ini belaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu[5].

5. Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya[6].

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan mengasuh anak yatim, yang ini sering terjadi dalam kasus “anak angkat”, karena ketidakpahaman sebagian dari kaum muslimin terhadap hukum-hukum dalam syariat Islam, di antaranya:

1. Larangan menisbatkan anak angkat/anak asuh kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ}

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu” (QS al-Ahzaab: 5).

2. Anak angkat/anak asuh tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua yang mengasuhnya, berbeda dengan kebiasaan di zaman Jahiliyah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia[7].

3. Anak angkat/anak asuh bukanlah mahram[8], sehingga wajib bagi orang tua yang mengasuhnya maupun anak-anak kandung mereka untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak tersebut, sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan mahram, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah.

 وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

********

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel Muslim.or.id


[1] HSR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).
[2] Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (14/41) dan Tuhfatul ahwadzi” (6/39).
[3] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (18/113).
[4] Lihat kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadiitsi wal atsar” (5/689).
[5] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (18/113) dan “Faidhul Qadiir” (3/49).
[6] Ibid.
[7] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 3778), lihat juga kitab “Tafsir al-Qurthubi” (14/119).
[8] Mahram adalah orang yang tidak halal untuk dinikahi selamanya dengan sebab yang mubah (diperbolehkan dalam agama). Lihat kitab “Fathul Baari” (4/77).


📘📖.........................✍🏻
✏MENGAPA MENINGGALKAN YANG MAMPU MEMBERIKAN SYAFA’AT DEMI YANG TIDAK MAMPU MEMBERIKAN SYAFA’AT..?

BBG AL ILMU

Renungan pagi…
.
Sebagaimana kebanyakan manusia saat ini sulit berpisah dari hp, maka begitulah orang-orang dahulu/salaf sulit meninggalkan Al Qur’an barang sekejap pun, rasanya selalu ada sesuatu yang diharap-harapkan, sesuatu yang ditunggu-tunggu, indah dibaca dan diamalkan… mereka mampu menikmati dan mampu fokus membaca dan mentadabburi Al Qur’an selama berjam-jam..
.
Al Qur’an akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at (atas izin Allah) bagi pembacanya (baca paragraf terakhir),… lalu mengapa kita habiskan jauh lebih banyak waktu untuk yang TIDAK BISA memberi syafa’at (medsos)..?
.
Allah Ta’ala berfirman:
.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).
.
Asy Syaukani (w: 1281H) rahimahullah berkata,
.
“Maksudnya adalah terus menerus membacanya dan menjadi kebiasaannya” (Lihat kitab Tafsir Fath Al Qadir).
.
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi Wasallam bersabda (yang artinya):
.
“Bacalah Al Qur’an KARENA AL QUR’AN AKAN DATANG PADA HARI KIAMAT NANTI SEBAGAI SYAFI’ (PEMBERI SYAFA’AT) BAGI YANG MEMBACANYA. Bacalah Az Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya), keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut. Bacalah pula surat Al Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin menghafalnya.”.
.
(HR. Muslim no. 1910. Lihat penjelasan hadits ini secara lengkap di At Taisir bi Syarhi Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/388, Asy Syamilah)
.

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
*ISLAM SUDAH SEMPURNA*
Abu Agus Santosa Somantri
https://agussantosa39.wordpress.com/about/
Sungguh telah sempurna syari’at Islam sehingga tidak membutuhkan penambahan atau pengurangan baik yang menyangkut halal atau haram, segalanya sudah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya
Kesempurna’an syari’at Islam Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu”. (Al-Maidah: 3).
Imam Asbath mengatakan, “Ayat ini turun pada hari arafah, dan setelah itu tidak ada lagi ayat yang turun, yang menyangkut halal dan haram. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dan setelah itu beliau wafat”.
Kesempurna’an Islam di sebutkan juga oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dalam sabdanya :
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian”. (HR. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir 1647).
Yang di maksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya di atas adalah, sesungguhnya syari’at Islam sudah mencukupi. Sehingga tidak di benarkan apabila ada umatnya yang ingin mendapatkan jalan menuju surga-Nya Allah Ta’ala membuat-buat lagi cara-cara baru dalam agama. Karena syari’at Islam sudah sempurna.
Oleh karena itu barang siapa mencari jalan ke surga dengan menempuh cara-cara yang tidak di ajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia menempuh jalan yang menyimpang dan sesat.
Hadits lain yang menerangkan tentang telah sempurnanya Islam di jelaskan juga oleh Rasulullah dalam sabdanya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab sunannya :
Dari Muththalib bin Hanthab, “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah bersabda : “Tidak aku tinggalkan sesuatu / sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah perintahkan kepada kamu, melainkan sesungguhnya aku perintahkan kepada kamu. Dan tidak aku tinggalkan kepada kamu sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah larang/cegah kamu (mengerjakannya), melainkan sesungguhnya telah aku larang kamu dari mengerjakannya”.
Perhatikan baik-baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, tidak ada satu pun perintah dan larangan Allah Ta’ala kecuali semuanya telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya. Sehingga tidak di benarkan mengada-adakan kembali cara-cara baru dalam ibadah walaupun tujuannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan meraih ridho dan pahala sebanyak-banyaknya.
Kesempurna’an Islam selain di jelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, juga di terangkan oleh para Sahabat.
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata :
لَقَدْ تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَتَقَلَّبُ فِي السَّمَاءِ طَائِرٌ إِلَّا ذَكَّرَنَا مِنْهُ عِلْمًا
”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dan tidak ada burung yang terbang kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan tentang ilmunya”. (Musnad Ahmad 20467).
Maksud perkata’an Abu Dzar radlyallahu ’anhu ialah, bahwa Rasulullah shalalla’u’alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam, baik dalam bab keimanan, ibadah, muamalat, adab dan akhlak, kabar-kabar, perintah-perintah dan larangan dan segalanya. Hal yang paling kecilpun telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam kepada umatnya, sebagaimana hadits dibawah ini,
Dari Salman al-Farisi dia berkata :
قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُونَ إِنِّي أَرَى صَاحِبَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ حَتَّى يُعَلِّمَكُمْ الْخِرَاءَةَ فَقَالَ أَجَلْ إِنَّهُ نَهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِيَ أَحَدُنَا بِيَمِينِهِ أَوْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ وَنَهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالْعِظَامِ وَقَالَ لَا يَسْتَنْجِي أَحَدُكُمْ بِدُونِ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ
”Kaum musyrikin berkata kepada kami, ‘Sungguh, aku melihat sahabat kalian (Rasulullah) mengajarkan kepada kalian hingga masalah adab beristinja’, maka dia berkata, ‘Ya. Beliau melarang kami dari beristinja’ dengan tangan kanannya atau menghadap kiblat, dan beliau juga melarang dari beristinja’ dengan kotoran hewan dan tulang.’ Beliau bersabda : “Janganlah salah seorang dari kalian beristinja’ kurang dari tiga batu”. (Shahih Muslim 386).
Hadits diatas sebagai jawaban para sahabat kepada kaum musyrikin, juga menegaskan kepada kita, Sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada umatnya segala sesuatunya tentang Islam, baik menyangkut aqidah, ibadah, muamalah, adab-adab dan akhlak dan seterusnya bahkan adab buang air sekalipun.
 ⬇️ ⬇️ ⬇️ ⬇️ ⬇️ ⬇️
*Syari’at Islam tidak memerlukan lagi tambahan*
Kesempurna Islam sebagaimana di sebutkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an juga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga oleh para Sahabat Nabi. Maka dengan kesempurna’annya tersebut tidaklah diperlukan lagi adanya penambahan-penambahan atau mengada-adakan hal-hal yang baru berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran yang menganggap apa saja yang baik itu boleh saja dilakukan dalam agama meskipun tidak pernah diperintahkan di lakukan atau pernah disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka pabila ada orang-orang yang memandang perlu memberikan penambahan atau mengada-adakan lagi hal-hal yang baru diluar syari’at yang telah ada, maka berarti mereka menganggap Islam tersebut belum sempurna.
Dan lebih buruk lagi mereka yang menambahkan atau mengada-adakan hal-hal baru yang sudah di syari’atkan Allah dan Rasulul-Nya, maka secara tidak sadar dia telah menjadikan dirinya sebagai pihak yang berhak membuat syari’at. Padahal yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah subhananu wa Ta’ala penguasa alam semesta dan Rasulullah shalallahu’ alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya.
 ⬇️ ⬇️ ⬇️ ⬇️ ⬇️ ⬇️
*LALU MEREKA YANG TELAH LANCANG* MEMBUAT-BUAT KEBID’AHAN, YAITU MEREKA YANG TELAH BERANI MEMBUAT-BUAT ATAU MENGADA-ADAKAN CARA-CARA BARU DALAM SYARI’AT ISLAM, MAKA PERLU DI PERTANYAKAN, SIAPA DIRINYA ?
Islam telah sempurna tidak memerlukan tambahan-tambahan dan cara-cara baru menyangkut urusan agama meskipun sekecil apapun dan alasan apapun dari tambahan-tambahan tersebut meskipun dianggap baik adalah suatu perkara besar yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi sebaliknya sangat dicintai oleh iblis dan para pengekornya.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,
إن أبغض الأمور إلى الله البدع
“Sesungguhnya perkara yang paling dibenci oleh Allah adalah bid’ah”.
Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata,
البدعة أحب إلى إبليس من المعصية، المعصية يتاب منها و البدعة لا يتاب منها
“Bid’ah itu lebih disenangi oleh iblis daripada kemaksiatan, sebab kemaksiatan itu (pelakunya) akan (mudah) bertaubat daripadanya sedangkan pelaku bid’ah itu sulit sekali untuk bertaubat dari bid’ahnya”.
Mereka yang telah menambah-nambah atau membuat-buat perkara baru dalam urusan agama, pelakunya secara sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak langsung telah menuduh Rasulullah shalallahu ’alahi wa sallam telah berhianat dan menyembunyikan risalah Islam. Inilah yang pernah diperingatkan oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah ta’ala di dalam salah satu perkata’annya yang sangat terkenal sekali yaitu : “Barang siapa yang membuat bid’ah di dalam islam, yang dia mengangapnya sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), maka sesungguhnya dia telah menuduh bahwa Muhammad shallahu ’alahi wa sallam telah berhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman : “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu”. Maka apa-apa yang tidak menjadi (bagian dari) agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi (bagian dari) agama pada hari ini”. (Al-I’tisham juz 1 hal.49).
Alangkah bagus dan indahnya perkata’an Imam Malik diatas dan ini merupakan kaidah besar yang sangat agung sekali di dalam agama Allah, bahwa “Apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, yakni ketika turunnya ayat diatas, maka tidak akan menjadi agama pada hari ini, Yakni, apa-apa yang bukan ajaran islam pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi ajaran islam pada hari ini”.
با رك الله فيكم
Sumber::
Abu Agus Santosa Somantri
https://agussantosa39.wordpress.com/2015/04/27/islam-sudah-sempurna/#comments
*Siapa yang berhak menimbang antara mashlahat dan mafsadah?*

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

معيار مقادير المصالح والمفاسد هو بميزان الشريعة؛ فمتى قدر الإنسان على اتباع النصوص لم يعدل عنها، وإلا اجتهد برأيه لمعرفة الأشباه والنظائر، وقلَّ أن تحوز النصوص من يكون خبيراً 
بها وبدلالتها

مجموع الفتاوى (28/129).

“Parameter menentukan mashlahat dan mafsadah adalah timbangan syari’at. Kapan saja seorang insan mampu mengikuti nash maka ia tidak boleh menyimpang darinya. Jika tidak, maka ia berijtihad dengan pendapatnya untuk mengenal Al Asybah wan nadzoir. Dan sedikit yang dicakup oleh nash oleh orang yang sangat berilmu tentangnya dan dilalahnya.” (Majmu Fatawa 28/129)

Ini menunjukkan bahwa untuk mempertimbangkan antara mashalahat dan mafsadah membutuhkan pengetahuan yang luas terhadap nash dan ijtihad. 
Doktor Asyraf Abdurrahman menyebutkan bahwa syarat syarat orang yang menimbang antara mashlahat dan mafsadah adalah : berilmu dengan kaidah kaidah maqashid syari’ah. Mengetahui kaidah kaidah untuk mentarjih antara mashlahat dan mafsadah.

Adapun orang awam yang tak mampu berijtihad, selama bukan keadaan darurat kewajiban mereka adalah bertanya kepada para ahli ilmu. Karena itulah yang Allah perintahkan dalam firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,
(An-Nahl - 43)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1868880573305378&id=100005503590633

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
🇫 🇦 🇪 🇩 🇦 🇭 🇵 🇦 🇬 🇮

❅ https://t.me/MuliaDenganSunnah

💊🌏💥 *OBAT PENYAKIT HATI*

☝️💬 Berkata Al Imam Ibnul Jauzi semoga Allah merahmatinya :

👣 "Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki mendatangi ummul mu'minin Aisyah semoga Allah meridhoinya
 
💬 lalu mengatakan,

"Wahai ummul mu'minin, sesungguhnya aku mengidap suatu penyakit, apakah engkau memiliki obatnya?"

💬 'Aisyah menjawab, 

"Apa penyakitmu?"

💬 dia menjawab,

"Kerasnya hati".

💬 Maka Aisyah menjawab,

"Sejelek-jelek penyakit adalah penyakitmu, maka obatnya jenguklah orang yang sakit, saksikanlah jenazah, dan ingatlah kematian".

✍️ Sumber : 
Bustanul Waidzin hal. 146

قال الإمام ابن الجوزي رحمه الله:

« روي أنّ رجلاً جاء إلى عائشة أم
المؤمنين - رضي الله عنها - ، فقال:
يا أم المؤمنين إنّ بي داء فهل عندك
دواء، قالت: وما داؤك، قال: القسوة،
قالت: بئس الداء داؤك، عُد المرضى،
واشهد الجنائز، وتوَقع الموت .»

#بستان الواعظين (صـ ١٤٦).

📃 Kajian Islam Temanggung

✒ Editor : Admin AsySyamil.com

📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📮 CHANNEL MULIA DENGAN SUNNAH
🌐 https://t.me/MuliaDenganSunnah
🅾 bit.ly/AsySyamilYoutubeChannel
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
👥 https://bit.ly/JoinGrupKami
💠️ FB : https://goo.gl/tJdKZY
🛰 App : bit.ly/AsySyamilApp
📱 Admin : 081381173870
*"KEMBALI KE AJARAN ISLAM YANG ASLI"*
.
*"Satu-satunya Islam Yang Hakiki"*
*adalah :*
👉🏼 _*Islam yang Mengikuti Al-Qur’an dan Hadits berdasarkan Pemahaman Para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum.*_
.
👉🏼 _*Inilah Pemahaman Islam Yang Masih Murni Yang Mesti Diikuti.*_
.
*Dalil untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan hadits disebutkan dalam Muwatho’ Imam Malik :*
.
إني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به فلن تضلوا أبدا كتاب الله وسنة نبيه الحديث
.
_*​“Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya*_
*Yaitu :* 
_*Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”*_
*📚*
[HR. Al Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim].
.
*Islam Yang Hakiki bukan hanya berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits,*
👉🏼 _*Namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam ber-Agama.*_
👉🏼 _*Karena para Sahabatlah yang Mengetahui bagaimana Wahyu itu turun.*_
👉🏼 _*Dan mereka yang lebih tahu maksud Nabi daripada umat sesudahnya.*_ 
👇🏼
*Oleh karenanya mereka dipuji dalam ayat :*
.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
.
_*​“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.*_
_*Itulah kemenangan yang besar.”*_
*📖*
(QS. At-Taubah: 100)​.
.
*Dalam ayat lain :*
.
*Allah Ta’ala memuji keimanan Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum* dan *Orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya :*
.
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا
.
_*​“Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian,*_
👉🏼 _*Maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).”*_
*📖*
(QS. Al Baqarah: 137)​.
.
*Yang mengikuti para sahabat dalam beragama, itulah yang selamat (firqotun najiyah).*
👉🏼 _*Sebagaimana disebutkan dalam hadits perpecahan umat.*_
*Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :*
.
وَإِنَّ بَنِى إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى
.
_*​“Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan.*_
_*Sedangkan umatku terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka*_ 
*Kecuali "Satu.”*
👇🏼
*Para sahabat bertanya :*
_*“Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?”*_
*Beliau bersabda :*
_*“Yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku.”*_
*📚*
[HR. Tirmidzi no. 2641. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan].​ 
.
*Jadi, yang mengikuti pemahaman para sahabat, itulah yang selamat.*
.
*Mengapa kita mesti mengambil pemahaman salaf atau sahabat dalam beragama?*
👉🏼 _*Karena kalau memakai pikiran masing-masing dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits, maka tafsirannya bisa macam-macam, bahkan bisa rusak.*_
_*Sehingga tidak cukup kita mengamalkan Al-Qur’an dan Hadits saja,*_
👉🏼 _*Namun juga ditambah harus Mengikuti Pemahaman Para Sahabat.​*_
.
*"Amanat Jalan Selamat"*
.
Ⓜ️edia Sunnah Nabi

⚠️ JANGAN MENGHINA DAN MEREMEHKAN ORANG LAIN

Oleh:
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc  

Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah.

Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya,Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata, “Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.

Abu Jurayy bertanya, Apakah engkau adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.

Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Berilah wasiat kepadaku.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat,

لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا

Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.

Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan.

Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Di antara wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan.

Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713).

Ingatlah orang  jadi mulia di sisi Allah dengan ilmu dan takwa. Jangan sampai orang lain diremehkan dan dipandang hina. Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11)

Seorang mantan budak pun bisa jadi mulia dari yang lain lantaran ilmu. Coba perhatikan kisah seorang bekas budak berikut ini.

أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ لَقِىَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ فَقَالَ مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِى فَقَالَ ابْنَ أَبْزَى. قَالَ وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى قَالَ مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا. قَالَ فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى قَالَ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ. قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ »

Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfaan. ‘Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami,jawab Nafi’. Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).” Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817).

Semoga nasehat hari ini bermanfaat. Wasiat Rasul lainnya akan disampaikan pada postingan lanjutan, insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik.

********

Disusun di pagi hari ini penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 15 Rajab 1435 H

Akhukum fillah: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Artikel Rumaysho.Com


📕📖......................✍🏻
*WASPADALAH!* 

Bagi Anda kaum muslimin yang punya TV di rumah. Bahwa kini ada tayangan film kartun di RCTI dengan nama "Superbook" yg hadir setiap hari Sabtu jam 6 pagi.

Sekilas saja, seperti kartun biasa, tapi sejatinya tidak. Kisah-kisah yang dibawakan dalam kartun ini berasal dari Bibel.

Dan yang sedikit mengecoh penonton : nama-nama Nabi yang ada dalam kartun tersebut diterjemahkan seperti nama dalam Al-Qur'an, seperti Moses menjadi Musa, David menjadi Daud, Yesus menjadi Isa, dst. Sehingga kita akan mengira bahwa kartun ini Islami, padahal sejatinya kartun ini sangat palangis.

Penamaan 'Superbook' sendiri sebenarnya adalah nama lain dari Bibel sebagai buku super/suci bagi umat kristen.

Terlebih kartun ini diproduksi oleeh Christian Broadcast Network (CBN) atau yg disamarkan menjadi Cahaya Bagi Negeri.

Dan tentu kita paham siapa palangis di balik RCTI / MNCTV , yaitu Hary Tanoe dkk.

Sebarkan kristenisasi terselubung ini, jelaskan kepada saudara2 muslim bahwa mereka akan menggunakan 1001 cara memurtadkan umat Islam bahkan dengan cara yang sangat licik.

 *WASPADALAH*
Chususon bagi anak & cucu yg anak di bawah usia 10 thn

Reposting by: Abu Sa'id bin Zainun.
MARI TERUS BELAJAR

"Bedakan antara berdakwah, mengingkari kemungkaran, dan mengubah kemungkaran.

– Berdakwah itu ketika kita mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan dari kemungkaran.

– Mengingkari kemungkaran itu ketika ada perbuatan haram yang dilakukan atau ada kewajiban yang ditinggalkan, lalu kita mengingkarinya.

– Mengubah kemungkaran itu ketika kita berusaha menghilangkan kemungkaran yang sedang terjadi.

Dalam berdakwah, yang penting kita tahu bahwa yang kita sampaikan sesuai dengan dalil.

Dalam mengingkari kemungkaran,  kita harus tahu bahwa yang kita ingkari adalah kemungkaran, bahwa pelaku benar-benar melakukannya, dan bahwa pengingkaran itu tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.

Adapun mengubah kemungkaran,  maka ini hanya untuk mereka yang punya kapasitas dalam melakukannya.. karena kalau tidak demikian, maka itu akan menimbulkan kekacauan dan kegaduhan.."

[Faidah dari Syeikh Al-Utsaimin -rohimahullah- dalam Syarah Riyadhus Shalihin]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ref : https://bbg-alilmu.com/archives/56068

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Ⓜ️edia Sunnah Nabi

⚠️ BIMBINGLAH KELUARGAMU MENDIRIKAN SHALAT

Sebuah perintah ilahi dan  arahan rabbâny yang agung. Sebuah perintah yang sering disikapi oleh kebanyakan manusia dengan salah satu dari dua sikap yang berlebihan, ada yang terlampau keras tapi ada pula yang mengabaikannya. Perintah tersebut adalah firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala di akhir Surah Thaha. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20:132]

Ini merupakan perintah dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabinya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan apapun yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada Nabinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti itu juga sekaligus perintah bagi ummatnya selama belum ada dalil yang menunjukkan pengkhususannya bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Perintah ini, tidak ada yang dalil yang menunjukkan pengkhususannya berdasarkan kesepakatan para Ulama. Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang tua untuk  benar-benar memperhatikan anak-anak mereka, mengawasi mereka dengan pengawasan yang ketat  dalam perkara shalat ini. Karena shalat  adalah rukun yang terpenting setelah dua kalimat shahadat. Tentunya, ini dilakukan oleh orang tua setelah dia sendiri menjaga shalatnya dengan penuh perhatian, sabar dan terus berusaha sabar dalam melaksanakannya, hingga dia menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Kemudian setelah itu, dia mulai mengawasi, memberi semangat putra-putri mereka  dalam menunaikan dan menjaga shalat tersebut, sebagaimana yang deperintahkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

🛑 AYAT YANG MULIA DIATAS MENUNJUKKAN DUA MAQAM (KEDUDUKAN) PENTING YANG HARUS DIREALISASIKAN :
*Pertama* : Maqam memperhatikan diri sendiri yang diwujudkan dengan menjaga shalat dan bersabar dalam melaksanakannya. Karena ada banyak hal di dunia ini yang bisa memalingkan dan menyibukkan orang dari malaksanakan dan menjaga shalat tepat pada waktunya. Ada yang terlalaikan oleh tidurnya, yang lain terkalahkan oleh rasa malas, yang lain lagi tersibukkan oleh permainan dan perbuatan sia-sia lainnya dan banyak lagi contohnya. Intinya, yang melalaikan itu sangatlah banyak sementara untuk menggapai maqam (kedudukan/peringkat) ini diperlukan kesabaran dan keseriusan agar bisa menjadi orang selalu melaksanakan shalat dan selalu menjaganya. Karena maqam ini memerlukan kontinuitas (kebersinambungan) tanpa ada rasa bosan dan lelah, maka tidak banyak orang yang bisa bertahan pada maqam ini. Al-Hâfiz Ibnu Hajar rahimahullah saat menjelaskan hadits :

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلى اللهِ قَالَ: الصَّلاةُ عَلى وَقْتِها قَالَ: ثُمَّ أَيّ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوالِدَيْنِ

Amalan apakah  yang paling disukai oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala ? Nabi bersabda, ‘Shalat pada waktunya.’ Shahabat bertanya, ‘Kemudian apa ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kemudian berbakti kepada orang tua.’

Beliau rahimahullah berkata, hanya saja kesabaran dalam menjaga shalat dan melaksanakannya tepat pada waktunya, juga kesabaran dalam menjaga bakti kepada orang tua merupakan perkara yang harus terus menerus dilakukan, dan tidak ada yang mampu bersabar dalam melakukannya kecuali orang-orang yang jujur dalam keimanannya.[1]

*Kedua* : Maqam memperhatian orang-orang yang berada dibawah tanggung jawabnya seperti keluarga dan anak-anaknya. Maqam ini diwujudkan dengan mendidik mereka agar menjaga dan memperhatikan shalat, dan selalu memonitor mereka dalam permasalah yang agung ini.

Semakna dengan ayat yang mulia di atas yaitu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud (di dalam Sunannya) dari hadist Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu anhu  bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah besabda :

مُرُوا أوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا ، وَهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka saat mereka berumur sepuluh tahun jika mereka meninggalkannya, serta pisahkan mereka (antara laki dan perempuan) ditempat tidur [2].

Hadist di atas menunjukkan keharusan untuk melakukan pengawasan dan monitoring sejak usia dini dari kehidupan mereka. Semenjak umur tujuh tahun, anak-anak sudah diperintahkan, dianjurkan, serta dimotivasi  untuk melaksanakan shalat, dan takala mereka berumur sepuluh tahun apabila mereka melalaikan (meremehkan), dan menyianyiakan shalat maka mereka hendaknya dipukul dengan pukulan yang mendidik bukan pukulan yang menyakiti.

Masalah shalat merupakan masalah yang sangat agung. Apabila kita lihat dan memperhatikan  realita  yang ada di rumah-rumah kebanyakan orang zaman ini, maka kita dapati kebanyakan orang tua lah yang melalaikan masalah ini. Para bapak meremehkan dan melalaikan shalat, sehingga mereka tidak bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya dalam menjaga shalat. Akhirnya, orang-orang yang berada dibawah tanggung jawabnya tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang melalaikan dan meremehkan shalat, karena sesungguhnya anak-anak akan tumbuh dan berkembang berdasarkan contoh yang mereka dapatkan dari orang tua mereka.

(Tindakan mengabaikan pendidikan anak dalam masalah shalat ini termasuk perbuatan kriminal-red.) Tindakan mengabaikan pendidikan shalat terhadap anak ini termasuk kejahatan yang tidak ada bandingannya. Tindakan jahat dalam masalah shalat ini merupakan kejahatan yang  besar.

Perhatikanlah perkataan Imam Ibn Qayyim rahimahullah yang beliau rahimahullah khusus kepada orang tua dalam permasalahan ini. Beliau rahimahullah mengatakan, Barangsiapa melalaikan pendidikan anak, tidak mengajarkan mereka hal- hal yang bermamfaat baginya serta dia membiarkan anaknya begitu saja, maka sungguh dia telah berlaku sangat buruk pada anaknya. Dan kerusakan pada anak terjadi karena sebab kelalain orang tua mereka dalam mengajarkan kepada mereka hal-hal yang wajib di dalam agama ini dan hal-hal yang sunnah. Mereka (para orang tua-pent) menyianyiakan anak-anak mereka tatkala mereka masih kecil hingga mereka tidak mampu memberi mamfaat kepada diri mereka sendri, serta tidak akan pernah bisa memberi manfaat kepada orang tua mereka tatkala mereka dewasa.[3]

Ini merupakan situasi yang sangat penting (gawat) yang memerlukan kesungguhan, sebuah situasi yang mengharuskan orang tua memperhatikan dirinya peribadi terlebih dahulu kemudian memperhatikan orang yang berada dibawah tanggung jawabnya seperti keluarga dan anak-anaknya, mengajarkan mereka shalat, dan mengajak mereka untuk senantiasa menjaga shalat.

🛑 UNTUKMU WAHAI ANAK-ANAK !
Wahai anak yang diberi taufik oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala ! Apabila Allâh memuliakanmu dengan memberikan kepadamu orang tua yang selalu memberikan perhatian kepadamu dalam permasalahan shalat, menganjurkan, serta memotivasimu, maka hati-hatilah jangan sampai kamu merasa direpotkan oleh orang tuamu. Janganlah engkau merasa marah karena pengawasannya padamu !

Demi Allâh sesungguhnya orang tuamu itu sedang berusaha untuk menjauhkanmu dari murka Allâh Azza wa Jalla, dan berusaha untuk menghantarkan kamu kepada keridhaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Karena sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla tidak akan ridha denganmu sampai kamu termasuk dari orang-orang yang melaksanakan dan menjaga shalatnya.

Perhatikanlah pujian Allâh yang sangat harum kepada Nabi-Nya Ismail Alaihissallam. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. [Maryam/19:55]

Nabi Ismâîl Alaihissallam orang yang diridhai oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala, karena dia melakukan segala sebab yang  bisa mendatangkan keridhaan Allâh Azza wa Jalla , dan diantara sebab yang paling agung adalah memperhatikan shalat dengan menjaga dan terus menjaganya, serta mengajarkan kepada keluarga kebiasaan menjaga shalat.

Imam Mâlik rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Muwattha dari Zaid bin Aslam Radhiyallahu anhu dari bapaknya, bahwasanya Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu  melakukan qiyâmul lail (shalat malam) sebanyak bilangan yang Allâh Azza wa Jalla kehendaki. Tatkala berada di akhir malam, beliau Radhiyallahu anhu membangunkan keluarganya untuk melakukan shalat. Beliau Radhiyallahu anhu membacakan kepada mereka firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20:132]

Kaum Muslimin, perhatikanlah dan renungilah keadan dan sikap para assalafus shalih Radhiyallahu anhum terhadap arahan agung dari Allâh Azza wa Jalla ini ! Kemudian, bandingkanlah realita keadaan ummat manusia yang cendrung melalaikan, menyia-nyiakan arahan ini, serta keengganan mereka untuk menunaikan  kewajiban yang agung ini.

Alangkah perlunya kita dalam permasalahan ini untuk menjadi pribadi-pribadi yang menjaga shalatnya, kemudian mengawasi anak-anak kita dalam melaksanakannya !

Alangkah butuhnya kita untuk selalu memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar menjadikan kita dan anak-anak kita termasuk orang-orang yang melaksanakan dan selalu menjaga shalatnya.

Diantara doa yang paling agung dalam permasalah ini adalah doa Nabi Ibrâhîm Alaihissallam:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat ! Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. [Ibrâhîm/14:40]

Kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar memberikan taufiq kepada kita dalam menjaga shalat, dan memperbaiki keadaan  anak-anak kita, serta menjadikan kita dan mereka termasuk dari orang-orang yang mendirikan shalat.

(Diterjemahkan dari kitab Ta’zhîmus Sunnah, yang ditulis oleh Syaikh Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr, hlm. 35-39)"

***************

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 

_______

Footnote

[1] Lihat Fathul Bâri ( 2/11)
[2] Riwayat imam Ahmad (no. 6756 ), Abu Daud, no. 495; Hâkim ( 1/311), dan dishahihkan oleh imam al-AlBâni dalam Shahîhul Jâmi’, no.  5868
[3] Tuhfatul Maudûd, hlm. 229"

Ⓜ️edia Sunnah Nabi


📘📖.........................✍🏻
📝 *6 KOMODITI RIBA*
👤 *Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. حَفِظَهُ اللهُ*

Barang-barang ini tersebut dalam hadits Ubadah bin Ash-Shamit yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa _Rasulullah bersabda,_

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

🔹 _“Emas dijual dengan emas,_
🔹 _perak dijual dengan perak,_
🔹 _gandum dijual dengan gandum,_
🔹 _sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir,_
🔹 _kurma dijual dengan kurma,_
🔹 _dan garam dijual dengan garam,_

*maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai).*

*Jika jenis barang tadi berbeda,*
_maka silakan engkau membarterkannya sesukamu,_
 *_namun harus dilakukan secara kontan (tunai).”_*
(HR. Muslim no. 1587)

Wallaahu ta’ala a’lam⠀⠀⠀
_____________________⠀⠀⠀
📝  *6 Komoditi Riba*
👤 *Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. حَفِظَهُ اللهُ*
⠀⠀⠀⠀
🌏  Ajukan pertanyaan Anda seputar permasalahan Agama melalui website @dewanfatwapa www.dewanfatwa.com/tanyakan⠀⠀⠀
_____________________
⠀⠀⠀⠀
Yuk, dukung Fatwa TV dan WAG Dirosah Islamiyah dengan infak terbaikmu ke :
⠀⠀⠀⠀
🏧  Bank Syariah Indonesia 7771831839 (BSI ex BSM Kode Bank 451)
🏧  Bank Muamalat 3460183183
🏦  a/n Yayasan Pilar Media Komunikasi
⠀⠀⠀⠀
📩  Bagi para donatur dimohon untuk konfirmasi ke :
- WhatsApp 0838-0600-0003
- http://bit.ly/SunduqDewanFatwa
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Postingan Populer

  • Belajar Sales Funnel
  • Amalan2 Yang Memasukkan Ke Surga Dalam Berbangsa Dan Bernegara
  • PEMBAWA BERKAH
  • BIASAKANLAH BERTERIMA KASIH
  • Bersabarlah

Translate

FOLLOW ON INSTAGRAM

Diberdayakan oleh Blogger.

Categories

  • Adab 2
  • Afirmasi 1
  • Belajar 1
  • Catatan 1
  • Dakwah 1
  • Digital Marketing 2
  • Doa 3
  • Foa 1
  • FYI 1
  • Hiburan 1
  • Hijrah 1
  • Idul Adha 1
  • Ilmu Islam 14
  • Keluarga 1
  • Kesehatan 7
  • Keuangan 2
  • Kisah 1
  • Motivasi 4
  • Muamalah 2
  • Muhasabah 4
  • Muslim 2
  • Nasehat 1
  • Promil 5
  • Puasa 1
  • Qur'an 3
  • Ramadhan 1
  • Renungan 11
  • Rezeki 1
  • Rumah Tangga 5
  • Shodaqoh 3
  • Sholat 5
  • Sosial 8
  • Tips 3
  • Wanita 6

Cari Blog Ini

Blog Archive

  • ►  2024 (4)
    • ►  Oktober 2024 (4)
  • ▼  2023 (85)
    • ▼  April 2023 (67)
      • KETIKA BERAMAL TANPA ILMU
      • Silsilah at Targhib wa at Tarhib
      • Haram, Senam Yoga
      • 16 ALASAN KENAPA KITA HARUS BERDAKWAH
      • 10 FAEDAH BERDOA DENGAN LEMAH LEMBUT
      • Persahabatan yang Sampai ke Surga Selamanya
      • KEUTAMAAN MENYANTUNI ANAK YATIM
      • MENGAPA MENINGGALKAN YANG MAMPU MEMBERIKAN SYAFA’A...
      • ISLAM SUDAH SEMPURNA
      • Siapa yang berhak menimbang antara mashlahat dan m...
      • OBAT PENYAKIT HATI
      • KEMBALI KE AJARAN ISLAM YANG ASLI
      • JANGAN MENGHINA DAN MEREMEHKAN ORANG LAIN
      • Waspadalah ...
      • MARI TERUS BELAJAR
      • BIMBINGLAH KELUARGAMU MENDIRIKAN SHALAT
      • 6 KOMODITI RIBA
      • IKUTI SUNNAH MESKI DIBENCI
      • DERMAWAN 100%…
      • MANFAAT TIDUR DALAM GELAP
      • Tiga Catatan Tentang Mimpi Buruk
      • Riba Dalam Koperasi Simpan Pinjam
      • 10 RUMUS MENGHADAPI KESULITAN
      • PERTOLONGAN ALLAH ITU DEKAT!
      • APA YANG KITA CARI DALAM HIDUP....???
      • Bersabarlah
      • Renungan Malam
      • Deteksi Warna Darah Haid
      • 4 cara menurunkan hormon stress, sudahkah Bunda la...
      • 10 Cara Meningkatkan Kesuburan di Usia 30 Tahun*
      • Tertundanya kehamilan bukan hanya dari faktor medi...
      • 11 WAKTU-WAKTU MUSTAJAB DOA DIKABULKANNYA
      • 7 Amalan yg Boleh Dilakukan Saat Haid
      • 11 WAKTU-WAKTU DIKABULKANNYA DOA
      • PEMBAWA BERKAH
      • RAMADHAN, DIKABULKANNYA SETIAP DOA
      • Penyebab terlambat datang bulan
      • LARANGAN MEMANDANG RENDAH SUATU KEBAIKAN
      • Afirmasi Positif Promil
      • TERAPI LANGIT (Program Hamil)
      • Jangan berhenti berharap kepada Allah
      • REJEKI ITU PUNYA ALAMAT
      • Belajar Sales Funnel
      • Cara Meningkatkan Omzet Penjualan
      • Saat sahur lupa berdoa Rugi banget
      • Sayangi Pasangan Hidup Kita
      • AL-QUR'AN
      • Energizer Tahajjud
      • Muka dia tidak dapat bergerak sama sekali
      • BIASAKANLAH BERTERIMA KASIH
      • Cerita tentang membandingkan hidup
      • JANGAN ENGKAU HARAMKAN DIRIMU DARI SHALAT MALAM...
      • HEBATNYA DOA DUDUK ANTARA DUA SUJUD
      • KIRIMAN PAHALA
      • 30 Resep Sehat di Waktu Tidak Muda lagi
      • Kebahagiaan Wanita di Mulut & Telinganya, Laki-Lak...
      • HARGA SEORANG TAMU
      • KESALAHAN - KESALAHAN DALAM SHALAT TARAWIH
      • KEUTAMAAN BERAKHLAK BAIK KEPADA ORANG LAIN TERUTAM...
      • TANPA HISAB
      • PENGARUH TABIAT ISTRI TERHADAP CARA SUAMI MENCARI ...
      • KEMATIAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
      • Ibnu Taimiyah Rujuk ke Aqidah Asy’ariyah??
      • Gagal Hijrah Karena Teman Lama
      • Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipa...
      • TENTANG MENGHIAS BACAAN AL-QUR’AN
      • Waktu Sudah Malam
    • ►  Maret 2023 (18)

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes